Kita tahu bahwa Indonesia pernah di jajah oleh beberapa negara seperti Portugis, Jepang dan Belanda, tentu hal ini akan mempengaruhi perkembangan arsitektur bangunan pada masa penjajahan dulu, faktor yang mempengaruhi arsitektur bangunan Indonesia pada masa lalu adalah perdagangan dan kolonialisme dan karena letak Indonesia yang sangat strategis bagi jalur perdagangan dunia, hal ini menyebabkan budaya asing masuk dengan mudah di Indonesia, dan mempengaruhi arsitektur bangunan di Indonesia.
Hal hal yang mempengaruhi arsitektur di Indonesia :
Yang Pertama adalah penjajahan oleh negara asing, tentu saja penjajahan akan mempengaruhi arsitektur bangunan di Indonesia karena, banyaknya pribumi yang dijadikan budak untuk membuat bangunan penting bagi sang penajajah dan hal ini menjadi acuan untuk arsitektur di Indonesia.
Yang Kedua adalah Perdagangan, perdagangan menciptakan interaksi sosial terhadap penjual dan pembeli, hal ini menyebabakan budaya asing mudah masuk salah satunya arsitektur di Indonesia, dan akhirnya banyak pedagang yang menikah dengan pribumi dan membuat bangunan yang sama pada negara asal sang pasangan.
Yang Ketiga adalah Agama, agama sudah pasti mempengaruhi arsitektur pada Indonesia, contoh saja katedral yang mirip dengan negara eropa dan masjid yang mirip dengan saudi arabia, tentu banyak bukan?,
Beberapa contoh bangunan dari zaman Kerajaan sampai zaman penjajahan
1. Lawang Sewu
Bangunan ini tak ayal adalah bangunan Belanda paling terkenal senatero Indonesia. Bangunan ini disebut Lawang Sewu oleh penduduk lokal lantaran banyaknya pintu yang ada di gedung ini. Lawang Sewu didirikan pada 27 Februari 1904 sebagai kantor perusahaan perkeretaapian Belanda, yaitu NIS. Arsiteknya adalah Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag yang berdomisili di Amsterdam. Gedung tua ini menjadi saksi pertempuran hebat antara pemuda AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) dengan Kempetai dan Kidobutai, Jepang pada Pertempuran Lima Hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945). Selain kedua menaranya, bangunan ini juga terkenal karena hiasan kaca patrinya yang begitu indah.
2. Benteng Jepang
Benteng Jepang (The Japanese Fortress) terletak di pusat kota Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Benteng ini adalah satu dari sekian banyak benteng Jepang peninggalan Perang Dunia ke II yang masih bertahan. Benteng ini dibuat dengan cara menggali gua di bawah bukit di tepi pantai.
Benteng ini memiliki tiga gerbang dan sebuah ruang bawah tanah (bunker) yang dihubungkan terowongan sepanjang 138 meter. Dulunya benteng ini digunakan sebagai tempat berlndung dan persembunyian bagi tentara Jepang.
3.
Benteng Tohula yang tepat berada di tengah kota Tidore. Benteng Portugis Tohula berasal dari nama pelabuhan Tohula hasil karya arsitektur Spanyol yang letaknya tepat didepan benteng. Dari benteng ini memang akan bisa melihat dengan jelas wilayah pantai sehingga pergerakan kapal musuh bisa terpantau sejak dini.
Hal hal yang mempengaruhi arsitektur di Indonesia :
Yang Pertama adalah penjajahan oleh negara asing, tentu saja penjajahan akan mempengaruhi arsitektur bangunan di Indonesia karena, banyaknya pribumi yang dijadikan budak untuk membuat bangunan penting bagi sang penajajah dan hal ini menjadi acuan untuk arsitektur di Indonesia.
Yang Kedua adalah Perdagangan, perdagangan menciptakan interaksi sosial terhadap penjual dan pembeli, hal ini menyebabakan budaya asing mudah masuk salah satunya arsitektur di Indonesia, dan akhirnya banyak pedagang yang menikah dengan pribumi dan membuat bangunan yang sama pada negara asal sang pasangan.
Yang Ketiga adalah Agama, agama sudah pasti mempengaruhi arsitektur pada Indonesia, contoh saja katedral yang mirip dengan negara eropa dan masjid yang mirip dengan saudi arabia, tentu banyak bukan?,
Beberapa contoh bangunan dari zaman Kerajaan sampai zaman penjajahan
1. Lawang Sewu
Bangunan ini tak ayal adalah bangunan Belanda paling terkenal senatero Indonesia. Bangunan ini disebut Lawang Sewu oleh penduduk lokal lantaran banyaknya pintu yang ada di gedung ini. Lawang Sewu didirikan pada 27 Februari 1904 sebagai kantor perusahaan perkeretaapian Belanda, yaitu NIS. Arsiteknya adalah Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag yang berdomisili di Amsterdam. Gedung tua ini menjadi saksi pertempuran hebat antara pemuda AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) dengan Kempetai dan Kidobutai, Jepang pada Pertempuran Lima Hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945). Selain kedua menaranya, bangunan ini juga terkenal karena hiasan kaca patrinya yang begitu indah.
2. Benteng Jepang
Benteng Jepang (The Japanese Fortress) terletak di pusat kota Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Benteng ini adalah satu dari sekian banyak benteng Jepang peninggalan Perang Dunia ke II yang masih bertahan. Benteng ini dibuat dengan cara menggali gua di bawah bukit di tepi pantai.
Benteng ini memiliki tiga gerbang dan sebuah ruang bawah tanah (bunker) yang dihubungkan terowongan sepanjang 138 meter. Dulunya benteng ini digunakan sebagai tempat berlndung dan persembunyian bagi tentara Jepang.
3.
Benteng Tohula yang tepat berada di tengah kota Tidore. Benteng Portugis Tohula berasal dari nama pelabuhan Tohula hasil karya arsitektur Spanyol yang letaknya tepat didepan benteng. Dari benteng ini memang akan bisa melihat dengan jelas wilayah pantai sehingga pergerakan kapal musuh bisa terpantau sejak dini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar